Aura Ramadhan
Ramadhan hampir berakhir. Terasa panjang sekaligus singkat ya. Puasa tahun ini aku habiskan hampir sepenuhnya sendiri. Padahal biasanya aku di rumah, duduk manis menolak melakukan apapun. Lucu, tahun ini aku justru terlalu sibuk melakukan segalanya. Padahal tahun-tahun sebelum ini aku selalu bingung karena harus menahan godaan membaca dan menonton hal-hal kesukaanku yang bisa membatalkan puasa, tahun ini, bisa tidur cukup lama saja aku sudah bersyukur. Dalam satu dan banyak sisi, kesibukan ini membunuhku, tapi juga membantuku. Tahu-tahu saja, bulan suci sudah hampir berlalu.
Ngomong ngomong sol bulan suci... Jalanan jadi ramai sekali kan? Penjual makanan di mana-mana. Tapi macetnya juga di mana-mana. Apalagi sore menjelang maghrib.
Siapa saja yang kalian lihat? Muslim? Pribumi? Atau juga etnis-etnis dan agama lain? Bahkan mungkin sepertiku, dari negara lain juga?
Aku ingat bagaimana orang tua ku terkadang berkata "Semua orang keluar ke jalan... Bahkan yang bukan muslim juga... Kenapa sih mereka tidak diam diam saja di rumah?"
Ok hold on baby... Ini bukan postingan menyebar kebencian. Jangan marah dulu. Baca sampai akhir ya. Aku dan keluargaku sangat menghormati semua orang kok.
Keluargaku bilang seperti itu bukan karena rasis. Tapi memang kami tipe orang yang suka malas pergi keluarga kalau jalanan ramai. Kecuali memang terpaksa. Jadi kami kadang heran kepada orang-orang yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat keluar, tapi toh keluar juga. Sekali lagi, kami bukan rasis.
Dulu-dulu sih aku tidak terlalu masalah. Karena biasanya aku di kursi penumpang. Duduk manis sambil melihat-lihat. Tapi seperti kataku, tahun ini aku sendirian. Perlahan aku mulai mengerti maksud orang tuaku. Kadang kesal sih... Kenapa ramai sekali... Macet... Aku lapaaaarrrr. Tapi lalu aku ingat ini salah satu bentuk cobaan puasa.
Nah.. sekarang masuk ke bagian favoritku. Pencerahan.
Setelah beberapa hari berpikir seperti itu... suatu hari aku dapat pencerahan.
Harusnya aku senang kalau ramai begini? Kenapa?
Karena itu artinya bulan suci ramadhan itu memang luar biasa sekali. Karena bisa dinikmati oleh semua orang. Tak peduli agama, ras, negara asal ataupun yang lainnya. Semua orang menikmati. Mau tidak mau kalian juga pasti mengakui kan, ada suasana menyenangkan di udara saat ramadhan. Ramai. Mengundang orang untuk ikut dan menikmati. Iya tidak?
Oke... memang akhir-akhir ini banyak yang menjadikan puasa sebagai alasan untuk ini dan itu. Itu salah mereka. Salah oknum. Bukan salah bulan puasa. Tapi soal suasana yang membuat semua orang bahagia, lebih hangat, itu adalah berkahnya. Iya tidak?
Iya saja lah... tidakkah berpikir positif jauh lebih mudah dan menyenangkan? Kalaupun kalian tidak setuju, ya gak papa sih... Tapi toh nanti kalian akan sadar apa maksudku. Tidakkah ini luar biasa, di bulan yang jika dilihat sekilas ini susah dan berat, ada banyak hal lain yang menyenangkan. Yang hanya ada pada saat ramadhan.
Jadi... tidak... aku tidak lagi merasa kesal pada orang-orang yang ikut-ikutan itu. Justru aku senang. Bulan suci kami bisa membuat mereka ikut bahagia.
Ikut dapat makanan. Ikut dapat diskon. Ikut dapat promo. Ikut bisa pulang kampung. Ikut dapat THR. Ikut... bahagia.
Manusia hidup dalam keberagaman. Dari sananya sudah begitu. Jadi nikmati saja. Indah kok. Sungguh. Tak perlu membenci.
(tapi benci lah dirimu yang masih dikuasai hawa nafsu. oke bagian ini gak penting. abaikan saja.)
Labels: Community, Experience, Opinion, People
Kiyoshin, Webtoonist Muda Berbakat Indonesia
Webtoon Sweet Escape buatan Kiyoshin
Di tengah
berkembangnya industri kreatif di Indonesia, LINE webtoon adalah salah satu platform
penyedia wadah bagi seniman Indonesia untuk mempublikasikan karyanya. Salah
satu judul yang paling terkenal adalah Sweet
Escape, berkisah tentang seorang gadis yang berpacaran dengan idolanya.
Pembuat webtoon ini adalah Kiyoshin,
gadis berumur 20 tahun asal Samarinda.
Webtoon,
atau sering juga disebut webcomics,
merupakan komik yang didistribusikan lewat jaringan internet. Webtoon merupakan komik khas yang
berasal dari korea selatan yang bisa kita baca dalam satu strip panjang (satu
halaman website) dan juga berwarna.
Kiyo, panggilan
akrab Kiyoshin, sudah mulai menggambar sejak TK secara otodidak. “Pernah sih
les buat gambar anatomi, tapi cuma 6 bulan aja karena sibuk sekolah.” Begitu
tutur Kiyoshin.
Kiyoshin mengaku
bahwa Sweet Escape terlahir dari
khayalannya sebagai seorang penggemar atau biasa disebut “fangirl”. Awalnya, ia hanya berniat membuat komik langsung habis
yang sekedar diunggah ke Facebook. Tapi
kemudian ada yang memberi saran agar komik buatannya itu lebih baik diunggah
saja ke LINE Webtoon agar lebih rapi
dan lebih banyak yang membaca komiknya tersebut. Maka ia mulai mengunggah komik
buatannya ke platform ini.
Ternyata setelah
itu menyadari bahwa menyampaikan ceritanya hanya dalam bentuk komik langsung
habis tidak lah mudah. Maka ia mengubahnya menjadi komik yang memiliki banyak
episode. “Terus kaget aja dari prolog udah masuk rank satu populer dan banyak
yang demen jadi diterusin sampe akhirnya bisa masuk resmi”.
Saat ditanya
bagaimana rasanya menjadi author LINE
webtoon, Kiyoshin mengaku bahwa sebenarnya ada tekanan yang cukup besar,
baik dari segi deadline yang
mengharuskan ia meng-update karyanya
seminggu sekali hingga komentar-komentar pembaca yang tak semuanya bernada
positif. Menurutnya, komentar pembaca di Indonesia itu asik dan heboh, baik
komentar positif maupun komentar negatif. “Dulu pas awal-awal rese dan dibawa
baper, tapi sekarang udah terbiasa sih tapi kalo lagi pms ya rese juga.”
Ujarnya sambil tertawa.
Perihal harapan
ke depannya, Kiyo mengaku ia sangat ingin membuat komik dengan genre
roman-fantasi karena dirnya sangat menggemari genre ini. Ia sendiri sangat
mengidolakan mangaka komik fantasi dari Jepang berjudul “Black Butler”, Yana Toboso. Dari dalam negeri, Kiyo berkata bahwa
ia mengidolakan Annisa Nisfihani, sesama webtoonist asal Indonesia, sosok di
balik webtoon My Pre-Wedding dan
Pasutri Gaje.
Terakhir, ia
ingin menyampaikan terima kasih untuk pembaca webtoon di Indonesia yang telah mendukung para webtoonist Indonesia dengan komentar-komentar positifnya. Dirinya
sendiri telah mendapat banyak komentar positif yang senantiasa memotivasinya
untuk terus berkarya.
Semangat terus
Kiyoshin! Maju Terus webtoon Indonesia!
Labels: Art, Comic, Internet, Interview, Japanese, LINE, People, Social Media, Society, Webtoon
Felice Blanc Berani Tampil Beda dengan Make Up Seram
 |
Felice Blanc sebagai Rotten Apple. Foto oleh Hermawan Eko Wijaya (Story Photography)
|
Akrab dengan
panggilan Felice, gadis bernama asli Oktavia asal Semarang adalah seorang
penggemar make up yang beda dari yang
lainnya. Jika pada umumnya wanita berdandan agar bisa tampil cantik dan
menarik, gadis berumur 19 tahun ini justru senang memakai make up yang membuatnya tampak seperti monster atau zombie yang
menyeramkan.
Berawal dari
sekitar tahun 2015, Felice yang melihat salah seorang kenalannya menggunakan face painting menjadi tertarik untuk
mencoba juga. Setelah mencoba membeli 3 warna cat, make up pertamanya adalah make
up Skull atau tengkorak. Setelah itu dia menciptakan karakter original
miliknya sendiri yaitu Rotten Apple
yang tampak seperti badut menyeramkan yang hingga kini ia gunakan identitasnya.
“Minim modal dan penuh pengorbanan baju bersih jadi penuh noda.” Katanya sambil
tertawa saat menceritakan awal mula dirinya menciptakan Rotten Apple. Dari situ
lah dia mulai ketagihan face painting.
Tak hanya Skull
dan Rotten Apple, Felice juga pernah menggunakan make up ala zombie dan kelinci
berwajah hancur. Felice sering datang ke event-event cosplay sambil berdandan
seram.. “Pertama dulu pas make up-an
tengkorak kan aku dari rumah, jadi di jalan agak takut ada yang ngeliat. Pas di
pintu masuk aja aku nutupin wajah. Tapi kalo sekatang sih ngga, aku santai
aja.” Bahkan Felice pernah membantu staf-staf hotel berdandan seram untuk event
Halloween.
Saat ditanya
bagaimana reaksi orang-orang yang melihatnya, ia menjawab bahwa ada berbagai
macam reaksi. Ada yang kaget, takut, menjerit bahkan takjub melihatnya. Ia
sering menjahili orang-orang yang takut melihatnya dengan justru malah
memberikan senyuman. Tak jarang ia juga suka mengisengi foto orang-orang dengan
sengaja ikut muncul di foto-foto mereka.
Menurutnya, ada
banyak suka duka dalam melakukan hobinya ini. Dukanya adalah berbagai kerepotan
yang harus ia lalui seperti wajah lengket, risih, berminyak, panas, susah makan
dan minum bahkan ia juga harus menahan bicara dan tertawa demi mendalami
perannya. Tapi ia mengaku senang saat menjadi pusat perhatian orang-orang
karena keunikannya. Ia juga berhasil mendapat banyak teman baru berkat hal ini.
Hal lain yang ia sukai dari melakukan make up seram ini adalah ia bisa dengan
leluasa menjahili orang-orang tanpa takut identitasnya ketahuan.
Felice berharap
agar ke depannya ia bisa belajar lebih soal teknik-teknik face painting,
special efek dan cara-cara menggunakan bahan-bahan lain seperti gelatin silikon
dan latex. Karena selama ini ia belajar semuanya secara otodidak dengan mencari
referensi random di Internet. “Kalo orang-orang ketemu di event nanti ya...
Hmm... Jangan sungkan buat nyapa dan jangan marah kalo aku photobomb hahaha” ujarnya di akhir perbincangan.
Mari kita doakan
agar karir Felice bisa semakin lancar ke depannya. Semangat terus Felice! (mii)
Labels: Community, Cosplay, Horror, Interview, Make Up, People
Sedikit tentang Komunitas Utaite Indonesia
Utaite adalah sebutan bagi orang-orang yang senang meng-cover lagu-lagu jepang seperti anisong, vocaloid, J-pop dan sebagainya kemudian mempostingnya di internet. Utaite muncul karena kesukaan orang-orang akan lagu-lagu Jepang dan keinginan mereka untuk mencoba menyanyikan lagu-lagu tersebut. Istilah utaite berasal dari kata Utattemita yang artinya “mencoba bernyanyi” dalam bahasa Jepang. Ada banyak motif kenapa seseorang ingin menjadi utaite. Ada yang mengidolakan penyanyi terkenal kemudian ingin menjadi seperti idolanya tersebut. Ada pula yang sekedar ingin mencoba mengembangkan hobi dan bakatnya dalam bernyanyi. Ada pula yang menjadi utaite sebagai batu loncatan agar bisa menjadi terkenal dan nantinya bisa menjadi penyanyi profesional.
“Sebenernya, jadi utaite itu ga susah. Dengan kamu cover lagu jepang dan kamu upload ke media sosial aja itu kamu udah jadi utaite” tutur Hoshie, salah satu utaite yang aktif mengcover lagu saat ini.
Sekarang di Indonesia sendiri komunitas Utaite Indonesia telah berkembang dengan pesat. Beberapa nama Utaite dari Indonesia seperti Rachie, Sayuko, Sagi, iMochi, fleurishana, kimunyu, ttompel, REi dan masih banyak lagi adalah nama-nama yang cukup populer di kalangan pecinta budaya Jepang di Indonesia. Banyak diantara mereka yang tidak lagi hanya sekedar mengcover lagu, tapi juga ikut andil dalam pembuatan game, mengisi soundtrack, pengisi suara sebagai dubber juga voice acting dan masih banyak lagi.
Prestasi mereka juga tidak lagi sebatas di dalam negeri namun juga luar negeri. Banyak utaite Indonesia yang telah memenangkan perlombaan internasional dan terkenal dalam skala internasional.
Sekarang pun mulai banyak bermunculan utaite-utaite baru di komunitas Utaite Indonesia ini. Seolah bakat-bakat terpendam mulai menunjukkan dirinya satu persatu. Banyak orang yang mulai percaya diri dan berusaha menunjukkan bakatnya, entah itu sekedar untuk mendapatkan teman baru maupun untuk mendapatkan perhatian dari khalayak ramai.
“Kalo menurutku pribadi sih sekarang udah berkembang pesat banget hehe. Like dulu itu utaite indonesia itu ndak sebanyak sekarang dan mereka juga bukan suara yang cuma main-main, i mean banyak yang baru masuk ke commu ini dengan suara dan skill yang berkualitas gitu, jadi seneng juga lihatnya hehe.” ujar Hoshie.
Di sisi lain, jumlah utaite Indonesia yang terus bertambah jumlahnya ini dinilai menjadikan interaksi menjadi semakin sulit karena jumlah yang banyak ini membuat sulit untuk semua orang saling kenal satu sama lain. Akhirnya muncullah sebuah gap senioritas di mana utaite baru merasa sulit untuk berinteraksi dengan utaite lain yang dianggap lebih senior karena telah lebih dahulu terjun ke komunitas ini.
“Dulu karena orangnya gagitu banyak, jadi masing-masing pada kenal satu sama lain. jadi lebih meratiin juga, lebih gampang komunikasi, lebih open lah in general.” ujar Runa, yang juga merupakan salah satu utaite yang aktif di komunitas Utaite Indonesia.
Rata-rata dari mereka yang telah lama aktif di komunitas ini, sekita sejak tahun 2012-2014 menjawab hal yang sama saat ditanya apa harapan untuk komunitas ini ke depannya.
“Semoga gak ada drama” kata Zoe singkat yang telah aktif di komunitas sejak tahun 2013.Hal yang sama juga diutarakan Runa dan Hoshie.
Mari kita doakan semoga ke depannya, komunitas Utaite Indonesia bisa berkembang lebih pesat lagi dan terus menjadi komunitas yang baik tempat menyalurkan hobi dan berkumpul sesama mereka yang senang menyanyi. (mii)
Labels: Community, People, Sing, Utaite
Pengaruh Penggunaan Original Character (OC) Dalam Komunikasi Media Sosial di Komunitas Pecinta Jejepangan
Tuesday, November 22, 2016 | 7:07 PM |
0 letters
Pengaruh
Penggunaan Original Character (OC) Dalam Komunikasi Media Sosial di Komunitas
Pecinta Jejepangan
Oleh : Amiira
Alva Salsabiella
Universitas
Brawijaya
amiiraalva.salsabiella@gmail.com
Abstrak: Original Character atau biasa
disingkat OC adalah tokoh yang diciptakan sesuai dengan keinginan pembuatnya
demi memenuhi keinginan dan tipe ideal pembuatnya. OC dibuat sebagai sebuah
bentuk topeng perlindungan bagi penggunanya. OC tidaklah harus masuk akal
ataupun sesuai dengan realita. Maka dari itulah ada kepuasan dan kesenangan
yang didapat dari menggunakan OC. Fenomena penggunaan OC ini marak di kalangan
komunitas pecinta budaya modern Jepang yang ada di media sosial. Adanya OC bisa
menambah kepercayaan diri penggunanya karena OC akan selalu lebih indah dari
kenyataannya. Namun hal ini bisa berdampak buruk berupa ketergantungan dan
ketidak beranian untuk menjadi dirinya sendiri.
Kata Kunci: Original
Character, Media Sosial, Perlindungan, Keinginan, Kepercayaan diri, Komunitas
dunia maya
Latar Belakang
Manusia
cenderung akan lebih jujur apabila diberikan suatu “topeng” sebagai bentuk dari
pertahanan diri. Topeng inilah yang memberi mereka sebuah ilusi rasa aman
sehingga mereka berani menjadi diri sendiri.
Di era
globalisasi seperti sekarang ini, manusia modern menghabiskan begitu banyak
waktu tiap harinya untuk menunjukkan eksistensinya lewat media sosial. Media sosial tidak lagi hanya digunakan untuk berkomunikasi
namun juga untuk membangun jati diri yang mereka inginkan. Dari sinilah
muncul banyak fenomena menarik seputar macam-macam cara membangun jati diri
lewat cara komunikasi sehari-hari di media sosial.
Salah satu
komunitas besar dunia maya yang ada di Indonesia adalah mereka yang menyukai
budaya modern jepang seperti komik, anime, lagu-lagu dan juga game-game Jepang. Dari sinilah muncul sebuah fenomena di mana orang-orang
pecinta jejepangan ini menggunakan persona buatan mereka sendiri atau sering
disebut sebagai OC (original character)
sebagai topeng mereka saat berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari di sosial
media.
Sehubungan
dengan hal ini, William, Rice, Rogers (1998) mengartikan keinteraktifan di
dunia maya sebagai berikut:
Tindakan di mana pada proses komunikasi para partisipan memiliki
kendali terhadap peran, dan dapat bertukar peran, dalam dialog mutual mereka.
Masing-masing pendekatan tentang keinteraktifan ini penting sekali. Dan, ketika
kita mulai berfikir tentang internet, kedua jenis makna itu bisa sama-sama
terjadi. Pengguna dapat berinteraksi dengan sebuah komputer dengan mengunakan
program-program yang tersedia. Tetapi mereka berinteraksi dengan orang lain
melalui ruang chatting atau saling mengirim surel.
Maka
OC ini dianggap penting untuk berkomunikasi karena mereka mendapat kepuasan
dalam menggunakan dan mengendalikan OC ini sesuka hati mereka. Mereka dapat dengan bebas membuat berbagai macam
jati diri dan jalan cerita yang mereka inginkan tanpa terikat pada realita
sesungguhnya.
Berdasarkan
uraian singkat di atas, maka artikel ilmiah ini perlu ditulis untuk memaparkan alasan pembuatan dan penggunaan OC, mendeskripsikan kaitan
antara karakteristik OC dan jati diri pembuat sekaligus penggunanya dan juga menjelaskan
pengaruh penggunaan OC pada aktivitas komunikasi online sosial media pembuat
sekaligus penggunanya. Dengan demikian, artikel
ilmiah non-penelitian dengan judul Pengaruh Penggunaan Original Character (OC)
Dalam Komunikasi Media Sosial di Komunitas Pecinta Jejepangan perlu ditulis dan
dibahas lebih lanjut.
Media sosial dalam kehidupan sehari-hari
Seperti yang
telah disebutkan di latar belakang, adalah sebuah fakta bahwa manusia modern
menghabiskan banyak waktunya membangun eksistensinya di media sosial. Hal ini
berawal dari perkembangan teknologi yang semakin lama semakin canggih. Salah
satu perkembangan yang membawa dampak besar tentu saja adalah internet. Dengan
adanya internet ini, komunikasi menjadi sesuatu yang jauh lebih mudah dan
cepat. Orang tak lagi harus menunggu lama hanya untuk sekedar bertukar salam.
Pesan yang dikirim langsung sampai ke tujuan dalam hitungan detik, tak perlu
lagi menunggu berhari-hari seperti halnya jika kita masih menggunakan pos.
Andreas Kaplan
dan Michael Haenlein mendifinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok
aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi
Web 2.0, dan memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content”.
Berbagai website
dan aplikasi pun mulai bermunculan untuk membuat proses komunikasi ini semakin
mudah, menyenangkan dan bervariatif. Para developer web mulai berlomba-lomba
menciptakan site yang berbeda dari yang lain, namun menarik untuk digunakan.
Sebut saja Facebook, Twitter, Path,
Instagram dan masih banyak lagi site-site lain dengan ciri khas dan
keunggulannya masing-masing. Bukan hanya sekedar tulisan, namun media-media
sosial ini juga memberikan berbagai fitur seperti foto, lagu, video, hingga livestream. Bukan hanya sekedar bertukar
pesan lewat tulisan, sekarang bahkan berbicara langsung sambil bertatap muka
adalah hal yang biasa.
Munculnya Komunitas-Komunitas Online
Seiring dengan
berjalannya waktu, Media Sosial tidak lagi digunakan hanya untuk berkomunikasi
dengan teman dan keluarga, tapi juga dengan orang-orang asing yang memiliki
minat sama atau bahkan mungkin tidak sengaja bertemu di dunia maya. Orang-orang
yang memiliki kesamaan minat ini lama kelamaan membentuk sebuah komunitas dunia
maya. Ada orang-orang yang menyukai genre musik A, ada mereka yang menyukai
film B, ada orang-orang pecinta budaya negara C, ada orang-orang dengan
pekerjaan D, ada orang-orang asal kota E yang sedang tinggal di tempat F dan
masih banyak lagi. Dengan dunia maya, orang-orang ini akhirnya bertemu. Dan
timbul lah suatu ikatan di antara mereka yang mungkin tidak mereka temui di
dunia nyata. Misalnya karena tidak ada teman sehobi yang bisa diajak bicara
panjang lebar tentang suatu kesukaan. Maka di dunia maya inilah mereka mereka
menemukan teman-teman dengan kesukaan yang sama.
Salah satu
komunitas online yang berkembang cukup pesat di Indonesia adalah mereka yang
menyukai berbagai budaya modern Jepang seperti film, lagu, komik dan hal-hal
lain yang erat kaitannya dengan Jepang. Komunitas ini semakin lama berkembang
semakin besar dan semakin banyak dengan spesialisasinya masing-masing. Salah
satu contohnya adalah komunitas Utaite Indonesia yaitu orang-orang Indonesia
yang senang menyanyi lagu-lagu Jepang dan mengunggahnya ke internet. Juga
komunitas Illustrator Indonesia yang berkiblat pada gaya gambar dari Jepang.
Biasanya, orang-orang ini memulai hobinya karena mereka senang menonton anime, membaca manga, mendengarkan musik-musik Jepang dan bermain game-game
Jepang. Begitu sukanya mereka melakukan hal-hal ini, mulai timbul keinginan
untuk menyalurkan kecintaan mereka ini ke dalam suatu bentuk karya.
Fenomena Pembuatan dan Penggunaan Original Character
Original
Character atau biasa disingkat OC adalah tokoh fiktif yang dibuat oleh
seseorang dengan berbagai maksud dan tujuan. Ada yang membuat OC dengan tujuan
sebagai tokoh cerita atau komiknya, namun ada juga yang hanya sekedar
menggunakan OC ini sebagai personanya. OC yang dibuat sebagai persona inilah
yang kemudian dibuat sedemikian rupa sesuai keinginan.
Awalnya OC
muncul hanya untuk digunakan dalam cerita ataupun komik. Namun lama-kelamaan orang-orang
mulai menggunakan OC sebagai sebuah bentuk persona sesuai dengan keinginan
mereka.
Ada banyak
faktor yang mendorong kemunculan OC ini sebagai persona. Salah satunya adalah
karena ada orang-orang yang merasa tidak nyaman atau kurang percaya diri
apabila menggunakan foto aslinya. Ada pula yang memang sengaja ingin
menyembunyikan identitasnya. Karena “ada resiko yang dapat muncul dari
pembukaan kepada orang yang salah, membuka diri pada saat yang tidak tepat,
mengatakan terlalu banyak tentang diri kitaatau berkompromi dengan orang lain.”
(Richard West, Lynn H.Turner: 2008) Namun ada juga yang tidak keberatan
menunjukkan wujud aslinya dan menggunakan OC hanya karena ia menyukainya.
Kaitan Antara Karakteristik OC dan Kepribadian Asli
Pembuat Sekaligus Penggunanya
Pembuatan dan
penggunaan OC sebagai sarana komunikasi mempunyai beberapa hal yang menarik
untuk diperhatikan mengenai kaitan antara OC dan pembuatnya.
Dalam menciptkan
sebuah OC, pasti ada suatu hasrat yang ingin dipenuhi dan sebuah keinginan yang
ingin diwujudkan meskipun hanya berupa gambar. Dalam membuat OC, pasti
seseorang membuatnya seindah dan sekeren mungkin. Ciri-ciri fisik suatu OC
tidaklah harus realistis. Apapun sah dalam pembuatan sebuah OC. Entah itu
berupa warna rambut ataupun warna mata yang berwarna-warni, ciri-ciri fisik
yang mungkin separuh hewan seperti mempunyai telinga dan ekor binatang ataupun
bahkan mengganti jenis kelamin OC berlawanan dengan jenis kelamin pembuatnya.
OC adalah bentuk pencarian kepuasan. Apapun yang diinginkan sang pembuat, baik
yan dapat terpenuhi maupun yang tidak dapat ia penuhi bisa ia tuangkan dalam
bentuk OC.
Bukan hanya dari
bentuk fisik namun juga dari sifat dan tingkah laku. Dengan menggunakan OC,
seseorang yang pendiam di dunia nyata bisa menjadi seseorang yang ceria dan
ramai di dunia maya. Atau mungkin sebaliknya, seseorang yang lelah dicap
sebagai anak yang cerewet bisa menjadi seseorang yang “cool” di dunia maya.
Pengaruh OC dalam Komunikasi Mereka di Media Sosial
Lalu seberapa
besarkah peran OC ini dalam komunikasi mereka di media sosial? Tentu saja
sangat besar. Banyak orang yang jadi jauh lebih percaya diri untuk
berkomunikasi karena merasa terlindungi oleh OC miliknya. Banyak pula yang
memulai percakapan ataupun komunikasi lainnya karena tertarik dengan OC ini.
Percakapan bisa dimulai dengan mudah hanya dengan mengomentari OC orang lain.
OC ini juga bisa mereka buatkan cerita, yang sekali lagi, benar-benar sesuai
keinginan tanpa perlu sesuai dengan realita ataupun logika. Tidak perlu ada
rasa takut dihakimi karena kurang tampan ataupun kurang kaya ataupun kekurangan
lainnya, karena OC bisa diatur sesuai keinginan. Bahkan OC juga bisa diubah
setiap saat apabila seseorang sudah merasa bosan dengan OC miliknya. Bahkan ada
banyak yang memiliki lebih dari satu OC untuk digunakan.
Meskipun begitu,
sisi negatif dari pemakaian OC ini tentu saja, apabila seseorang terlalu
tergantung pada OC dan berakhir menjadi sesuatu yang bukan dirinya, namun
memaksakan diri menjadi “sempurna”, maka ini akan berakibat buruk. Seseorang
tidak akan dapat berkembang dan akan terus berlindung di balik keamanan
bayang-bayang OC.
Kesimpulan
Orang
menciptakan dan menggunakan OC sebagai bentuk pemuasan diri dan pembangunan
jati diri ideal yang sesuai dengan keinginannya. OC seseorang tidak harus
mencerminkan bagaimana orang itu sebenarnya, namun OC akan mencerminkan
keinginan dan model ideal seseorang. Hal ini berdampak pada meningkatnya
kepercayaan diri dalam berkomunikasi karena merasa terlindungi. Namun apabila
seseorang terlalu tergantung pada OC dan akhirnya bukannya berkembang, malah
terjebak selamanya dalam ilusi OC miliknya.
Saran
OC bisa
digunakan untuk memulai komunikasi dan menambah kepercayaan diri, namun pada
akhirnya seseorang harus berani keluar dan menunjukkan dirinya yang
sesungguhnya. Tanpa harus menjadi sempurna seperti OC miliknya.
Daftar Rujukan
Kaplan,
Andreas.; Michael Haenlein. 2010. Users
of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media. Business
Horizons 53(1): 59-68
Werner,
Severin J.; Tandkard, James W. 2011. Teori
Komunikasi Edisi 5. Prenada Media Group.
West.
Richard , Lynn H.Turner. 2008. Pengantar
Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi (Buku 2) (Edisi 3) Jakarta: Salemba
Humanika
Labels: Communication, Community, Internet, Japanese, Original Character, Paper, People, Social Media, Society
Media Sosial dan Gerakan Masa
Pada era modern serba internet seperti saat ini, media paling mudah, cepat dan luas jangkauannya adalah media sosial. Menurut Chris Garrett, Media sosial adalah alat, jasa, dan komunikasi yang memfasilitasi hubungan antara orang dengan satu sama lain dan memiliki kepentingan atau kepentingan yang sama. Seiring perkembangannya, semakin banyak media sosial yang bermunculan. Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Path dan lain-lain, semua media sosial ini beramai-ramai digunakan orang-orang untuk saling berinteraksi, terutama bagi mereka yang berjauhan jaraknya. Orang-orang saling bertukar informasi dengan media sosial. Mereka juga bisa dengan mudah mencari berita terbaru dan mencari teman-teman dengan minat dan bakat yang sama di media sosial. Alhasil, informasi paling mudah menyebar lewat media masa. Apapun yang kita bagikan di media sosial, dalam hitungan detik akan dengan mudah sampai ke belahan dunia lain. Maka tak heran jika banyak orang yang memanfaatkan media sosial untuk kepentingan-kepentingan mereka masing-masing. Salah satunya adalah untuk menggerakkan masa.
Sekarang, seseorang tidak perlu lagi bersusah payah kesana kemari hanya untuk mengumpulkan masa dan membuat perubahan. Cukup bagikan saja konten-konten informasi dengan kata-kata persuasif yang mendukung, lalu bagikan di media sosial, maka dengan cepat konten ini akan menyebar. Lalu tinggal masalah waktu sebelum akhirnya masa mulai terkumpul. Apalagi dengan munculnya petisi-petisi online. Sekarang, orang bisa dengan mudah menuntut perubahan dan evaluasi pada pihak-pihal berwenang karena masa bisa dikumpulkan dengan cepat dalam waktu singkat. Cukup tulis saja keluh kesah yang dirasakan, kemudian sebarkan lewat media sosial, maka orang akan dengan cepat berbondong-bondong mengikutsertakan namanya sebagai pendukung petisi.
Namun, bukan berarti tidak ada hal negatif dari penggunaan media sosial tersebut. Justru karena segala informasi serba cepat, jadi orang kadang sulit untuk mengikuti. Alhasil, banyak masyarakat kita yang dengan mudah terprovokasi hanya karena ada pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang dengan seenaknya menyebar berita-berita yang belum pasti kebenarannya. Masyarakat yang malas mencari tahu lebih lanjut soal kebenaran berita yang sekedar mereka baca di sela-sela status relasi, menjadi sasaran empuk oknum-oknum ini. Dan hal inilah yang menyebabkan drama dan kericuhan di media sosial. Karena para pengguna media sosial saling hujat tanpa tahu kebenarannya, merasa mereka lah yang paling benar.
Bagaimana dengan kalian?
Labels: Internet, Mass Movement, Opinion, People, Social Media, Society
Travelling Sensei
New place means new things to learn. New people means more friends to make. I guess this is the right thing to say about this man who travels the world. His name means “to be honest”. Maybe that’s why sometimes he can be so blunt about many things. And to be honest, it’s just similar with me. From the meaning of our name to our bluntness. Born in Tokyo, October 16th, 1989, people will think him as someone uptight and discipline. But it’s not really the case this time it seems.
I remember the first thought crossing my mind when I heard a new teacher from Japan will come and teach us is that this person gonna be old and boring. But then my Japanese language teacher said that this new teacher is a young handsome male. That’s where I got excited.
To be honest, the first few weeks since his arrival many of us got so hyped up and wanted to know more about him. Maybe that’s because he didn’t show his real self in the class.
But all those image shattered when I started joining his extra class after school. That’s where his devil self-showed up. I can say he is a very mean teacher who like to pick up on me a lot. I don’t know why, maybe it’s because I was too loud for his liking, or maybe because I won’t back down whatever he said. But nevertheless, there were lot of new things I learned from him. And even more after I have an interview with him.
This guy, who I knew like money almost more than anything else and is very picky about food that he is willing to eat, actually is someone with more things than what it seems outside. And from this short questions and answers session I have with him in an empty new class upstairs, I managed to know him better.
The thing he said at the beginning of the conversation was how this thing we did feels like a job interview and I have to agree with him about it. Honestly, even though he kept telling me to do this quickly so he could go home faster, I enjoyed the interview a lot. I don’t know if this is because of him or it’s simply because I like to do these kind of things and didn’t get many chance to do it yet.
This guy who learn Bahasa Indonesia in a good pace said that Bahasa Indonesia is an easy language to learn, yet the lack of vocabulary in our language just gave him trouble here and there. His favorite Indonesian saying is “Tidak Apa-Apa” because that’s the first one he remembered. While his favorite english saying is “Never Too Late”. His favorite Japanese saying is 一期一会 (ichigo ichie). The term is often translated as "for this time only," "never again," or "one chance in a lifetime." The term reminds people to cherish any gathering that they may take part in, citing the fact that many meetings in life are not repeated. Even when the same group of people can get together again, a particular gathering will never be replicated and thus, each moment is always once-in-a-lifetime (
Wikipedia). But when I asked whether he had any other special skill other than talking in foreign language (and maybe picking other person in my case), he said he have none. He just like to communicate with people, a lot of people, not just with me. Again, he tried to get under my skin, even though he already agreed to do the interview with me. Oh well, but at least he likes and can do some basketball. So I guess that’s another plus thing about him.
While I think some of his personality is annoying, he personally think the opposite. He likes that he don’t care about many things and live care freely He think people in general just think too much and wasting their time by thinking something that has no answer or even think too much about things that already has an answer. He likes to keep his life simple. Too simple sometimes it will tick me off.
Now things about what he like and dislike. This picky eater didn’t really like sweet food. He even preferred bitter things like beer rather than sweet stuffs. Even his favorite Indonesia food is Mie Ayam Jamur because he thought it’s not too sweet. Now, isn’t it not really an Indonesian food? Oh well, I think he need to eat more not-sweet-but-delicious-Indonesian food. But maybe it’s still gonna be a problem since he doesn’t like spicy food while many of Indonesian food are spicy. Yet he like pork and meat. He also able to cook, nothing too complicated though. Just simple ones.
Talking about places seems like the best subject if we want to talk with him. So far, his favorite place is Tokyo since he lived there. But other than that, he liked USA because he lived there for a year or so. But hey, this guy here already travels from one place to another since a very young age. Started from England (5 y.o), Singapore (8 y.o), Australia (9 y.o), Italy (12 y.o), USA (15 y.o and again at 18 y.o for a year), Korean and Taiwan (20 y.o) and Switzerland, Norway and Denmark last year. Not to mention of course Indonesia now. And to know that he worked for Travel Company back in Japan, isn’t it very suitable for him?
But surprisingly, it’s not because this job of him he got to travel around. It was all thanks to his dearest mom. His mom is someone who has great influence on him and he respects her a lot because of it. He told me with adoration, how his mom used to save money since her childhood. They aren’t wealthy people, but his mom use her saving to take him and his siblings to many country. His mother teach him a lot of things, especially about the importance of money. There was one time when he and his mother went to shopping and his mother told him rather than buying discount stuff to save money, not buying them means save more money. Her smart mother is where he get his passion to collect money and save it. Not only for him, but also for his future kids. Because he don’t want his future kid asks why don’t you do this or buy that, only for to answer because he didn’t have enough money to afford it. Nice thinking I might say. This is where I understand the motive behind his ridiculous doing sometimes to collect money. Mostly by telling us to click the ads on his blog.
Different from his mother, he didn’t really keen on his father because he think that his father isn’t the best father in the world. But his sisters are another things. He said he has two older sister. His role model is the second eldest sister. She is a great sister that he respects a lot. She is the one who take care of him a lot. And... She is the one who worked for Japan Foundation and told him about teaching chance in Indonesia. Which of course bring him to be my Japanese teacher now. Thanks to sister number two, now I have an annoying but kind of nice Japanese teacher. Or just teaching assistant like what he said. The sister number one, he didn’t respect her like he respect the sister number two. But for him she is a nice woman. An artsy one. But lazy just like him. Yet, I believe he loved both of his sister dearly.
Despite his experience went to so many country, he said he didn’t really have any crazy experience. That or he is just too old to remember it. His words though, not mine. And after going to so many place, he didn’t really have anywhere else that he wanted to go. But he is willing to take any chance given to him. Whether to work again in Indonesia or anywhere. As long as he get good money from it. Like what he said, money is the most important things in the world. Not everything can be bought by money, but if you have lot of money, you can do many things.
After talk about places, of course we need about people too right? When I asked what he didn’t like from people in his country, at first he said he never really think about it. But then he said, he didn’t like the stereotypes that they have. Sure, there are stereotypes everywhere, but I guess Japanese’s is a bit too much for his liking.
While he didn’t like Indonesian people, he also didn’t like unfairness that he saw in Indonesian people. He said, Indonesian people always wanted to be treated special while actually they are just the same as other people. They always demand to be treated fairly while they treated other people unfairly. One of the example that he brought is how people in Indonesia didn’t like to wait in line and always seems trying to cut the line. Remembering that he came from one of the most discipline country, this is understandable. Other things he said that he didn’t like from Indonesia is how people who travels alone or single treated differently and that’s unfair. Because sometimes he just went alone not because he want it, but because there is no one to accompany him. But I see that didn’t really hold him from going to many places. I mean, he was here for just a few months but he already travels to more Indonesian place than me who lived here this whole 18 years. Oh, and he also didn’t like bemo driver who is just so annoying. Honestly, without saying too much, we all understand right? Didn’t we all just feel the same?
Despite all the things we lack, he still likes Indonesian. Especially the kids. He thought Indonesia kids didn’t actually lazy or indiscipline. It’s just the adult also lazy and indiscipline, naturally the younger will follow. While he thought that Indonesian adult’s didn’t work hard enough, he thought that the kids can be better. He believe that Indonesia is a growing country. And he hope that the kids could bring it to the better future.
In one side, I thought that maybe he only thought like that because he worked on our school that has high standard. He didn’t really see the other general kids. Yet, I want to believe what he said. I want to make it true. I want to be better and make this country better. Don’t you want it too?
So Sensei... please pay attention and look forward for us, young people, to bring this country to the fullest. And when we did it, you can proudly said you ever became our teacher.
That’s Masanari Nakamura-sensei, a Japanese who came and invaded our school to teach Japanese. You aren’t the best teacher, nor like any ikemen did I see in anime and manga. Yet I am glad you came to our school. Even though you always mess with me, I still can say that I learned a lot from you. Maybe you didn’t spend that much time here, just few months. And it’s not all good experience too. But I want you to know that I, and everybody too I guess, am really grateful about everything. Thank you for coming here and give us a lot of experience. As well with sharing a little bit of yourself to us. Although I am reluctant to say it, I think I will miss you a lot when you go back to Japan. I didn’t have any plan to forget you, so please don’t forget me and everybody here. Please be happy and have a great life in the future. Wish us luck! I don’t want to say good bye, so… See you!
 |
| After Interview... That he kept telling me to rush |
 |
Photobox session after watching Civil War.
First and last hang out i guess.
He even still bother the hell out of me till the very end. |
 |
Farewell party with my class INSANE.
How was it Sensei, are you full? Is it delicious? |
 |
And some other craziness he did in Indonesia + his kindergarten photo
1. First banjir experience, right?
2. Stop sleeping while taking other's seat
3. You didn't change much, did you?
4. Monkey love |
Labels: Experience, Interview, People, Story
Older Post