MENGINTIP KRIMINALITAS PALING BERBAHAYA
Sunday, March 13, 2016 | 7:07 PM | 0 letters
Tindak kriminalitas yang paling berbahaya adalah kejahatan yang tak disadari bahkan oleh pelakunya. Dan justru yang paling sering terjadi dalam kehidupan. Pada saat kata “kriminalitas” terdengar oleh telinga atau pun terbaca oleh mata, hal yang paling umum terbayang adalah para penjahat yang sering tampil di berita-berita melakukan berbagai macam aksi kejahatan. Kriminalitas identik dengan pembunuhan, pencurian, penculikan, pemerasan, penyiksaan dan kejahatan-kejahatan semacamanya yang senantiasa kita temui di kehidupan sehari-hari. Namun apakah hal-hal itu yang paling mengancam kehidupan kita?
Manusia terlahir sebagai makhluk yang suci, bebas dari segala macam dosa. Pilihan kita dalam kehidupanlah yang menimbulkan dosa. Jadi adalah salah apabila seseorang menganggap bahwa jahat adalah sifat alami manusia.
Namun seiring berjalannya waktu, semakin kita belajar mengenai berbagai macam hal di dunia ini, semakin banyak pilihan yang kita buat. Dan pilihan-pilihan itu lah menentukan akan jadi orang seperti apa kita nantinya. Beberapa di antara kita membuat pilihan yang salah, yang sering disebut sebagai sebuah kejahatan.
Ada berbagai macam kejahatan di dunia ini. Baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Dan kejahatan tak terlihat ini lah yang paling berbahaya. Sebut saja pencurian. Mengambil barang yang bukan milik diri sendiri adalah sebuah kejahatan. Mencuri kendaraan, uang bahkan jemuran, semua itu disebut pencurian. Tak sulit mengenali pencurian semacam ini, karena bentuknya nyata. Tapi bagaimana bila yang kita curi adalah sesuatu yang tak terlihat seperti waktu?
Orang sering mengambil dan mencuri waktu orang lain sesuka hati. Apalagi di negara seperti Indonesia yang orang-orangnya tak bisa patuh dan disiplin. Datang terlambat adalah sebuah bentuk kejahatan pencurian waktu. Karena dengan datang terlambat, itu berarti kita mengambil waktu orang lain yang menunggu kita. Dan tak jarang, keterlambatan ini menimbulkan berbagai macam masalah lain. Karena kita mencuri, mengambil waktu yang bukan milik kita. Misalnya saja, seseorang datan terlambat pada saat rapat. Akibatnya, sebuah perjanjian batal dilaksanakan. Kira-kira berapa banyak kerugiannya? Apalagi jika perjanjian ini menyangkut hidup orang banyak.
Kejahatan lain yang bisa dijadikan contoh adalah pembunuhan. Mengambil nyawa orang lain adalah sebuah kejahatan berat. Bahkan membunuh binatang ataupun tumbuhan tanpa alasan yang penting merupakan sebuah kejahatan. Sekali lagi, ini merupakan kejahatan yang dapat dilihat dengan mata. Namun bagaimana dengan membunuh sesuatu yang tak terlihat? Contohnya, membunuh motivasi orang lain.
Tak jarang manusia membunuh satu sama lain dengan cara yang kasat mata. Bukan raga yang mereka bunuh, bukan nyawa yang mereka ambil. Mereka mengendalikan pikiran dan membunuh semangat hidup. Cara yang paling umum digunakan adalah kekerasan verbal. Kata-kata, apabila tidak digunakan secara bijaksana akan menghancurkan orang lain. Baik disengaja maupun tidak. Contoh paling umum adalah terjadinya bullying baik di dunia nyata maupun dunia maya. Dengan cara merendahkan dan mengolok orang lain, bahkan mengucilkan, bullying telah berhasil membunuh banyak semangat hidup manusia. Akibatnya, sudah tak terhitung berapa banyak jumlah kematian akibat bunuh diri, terutama di kalangan remaja yang masih labil dan rentan mentalnya. Maka tidakkah hal ini merupakan sebuah kejahatan yang terselubung.
Maka mulai sekarang, mulailah bertanya pada diri sendiri, apakah diri kita sudah bena-benar bebas dari semua kejahatan, baik yang terselubung maupun yang tampak nyata. Seberapa banyak kita telah melakukan kejahatan di kehidupan kita? Apakah kita sudah cukup baik? Apakah kita telah membantu dunia ini mengatasi tindak kriminal yang terselubung? Karena kejahatan yang paling berbahaya adalah kejahatan yang tidak disadari oleh pelakunya. Bagaimiana cara kita mencegahnya apabila kita bahkan tidak tahu telah melakukannya? Mulailah dari diri sendiri.
Labels: Criminality, Editorial, Kriminalitas, Opinion